Ada Cerita di Stasiun Jakarta – Untuk Terkasih

Tempat yang penuh kenangan, tempat berkumpulnya kerinduan akan rumah dan kasih sayang atau sekedar kasur yang nyaman. Tempat kita mengumpat atas hidup kita masing-masing. Titik temu bagi sepasang kekasih yang sedang berjuang untuk hidupnya.

Advertisements

Hujan dan Matahari

“Duh, panas banget sih Bekasi!”

Hari ini memang matahari sedang semangat-semangatnya. Meski angin juga sedang bekerja dengan baik, namun tak mampu menghalangi keringat yang perlahan mengucur dari kening ini. Terkadang justru memaksa kami harus mengeluarkan sapu tangan di kantong untuk sekedar menyeka barang sebentar keringat yang keluar.

Sebagian dari kami yang tak tahan atas godaan yang terik ini, tak jarang kami menggerutu entah ditujukan pada siapa. Anjing! Lalu sebagian kami yang lain diam-diam mendoakan, lirih dalam hati berdoa untuk panas yang terik ini tidak berkelanjutan.

Jauh, jauh diatas sana Sang Matahari pun tak kalah panasnya, kabarnya Hujan sedang ingin mengambil takhtanya. Sang Hujan yang mendengar bisikan-bisikan kegelisahan dibawah sana, serta doa permohonan orang-orang sebenarnya tak terlalu berhasrat menguasai takhta, apalagi ia tahu benar saat ini sedang musim kemarau, dimana tuhan sedang berkehendak pada Sang Matahari untuk duduk di singgasana alam ini. Jalan Hujan memang terjal, tapi ia mau tak mau maju dengan keyakinan bisik-bisikan kami yang ada di bawah.

Sang Matahari tak bisa tinggal diam, Ia pun merasa pekerjaannya belum usai, masih banyak baju-baju lembap yang tergantung dibawah sana, jalan yang masih tergenang air, serta doa para pengendara motor yang sedang menuju pulang.

Ada benarnya memang, masih terlihat genangan air dimana-mana, baju tetangga masih tergantung di jemuran depan rumah, terlebih lagi memang tuhan sedang berkehendak pada Matahari.

Lalu saya sadar, adapula yang resah atas Matahari yang terlalu terik ini. Terkadang amat menyebalkan juga buat pengendara motor yang justru basah oleh keringat saat berangkat kerja, bukan saja genangan air dijalan yang kering, sungai, danau, hingga sumur kami terkadang juga turut dikuras oleh Matahari.

Yang mengherankan, justru pertarungan yang mengesalkan ini justru terjadi dibawah sini. Para pemohon hujan entah kenapa mereka menjadi barisan berani mati demi setetes hujan. Begitupula dengan para pembela matahari yang berjuang mati-matian secercah cahaya yang mengeringkan pakaian mereka.

Saya pernah memohon pada Tuhan, untuk selalu menjatukan saya pada cinta yang sewajarnya, tidak lebih tidak kurang. Untuk menjaga kesehatan logika dan nurani aku selalu memohon hal ini.

Terkadang saya merasa bersalah, tidak pernah mendoakan orang lain untuk doa yang satu ini. Apalah arti hanya seorang saja yang mengalami jatuh cinta sewajarnya, sedangkan yang lainnya sedang dimabuk cinta yang membabi-buta. Menutup mata atas kesalahan-kesalahan yang mereka perbuat, namun menghujat, mengolok, menikam dengan kata-kata busuk yang bahkan tercium bagi para penjaja parfum jalanan.

Apalah arti hanya kita dan segelintir lainnya yang sehat logika dan nuraninya sedangkan yang lain sedang terjangkit? Bahkan yang terjangkit seringkali terlihat lebih sehat dari kami yang memang benar-benar sehat. Ah taik! Mending kami sakit saja kalau begini.

Atau kalian yang sakit memang sedang mengurung kami di kamar gelap ini, agar kami tak mampu mengeluarkan statement-statement rasional kami?

Akhiri saja semua ini, berikan masing-masing singgasana pada mereka

Kami Takut Perubahan

IMG_2662 copy

Siapa yang tidak senang, ketika Peter Parker berubah menjadi Spiderman? Ya mungkin para penjahat di Manhattan. Eits, tunggu dulu, bukannya karena perubahan itu dia dibenci oleh sahabatnya sendiri Harry Osborn? Bahkan Mary Jane sang kekasih juga ikut menjauhinya?

Mungkin itulah yang membuat manusia membenci perubahan, ya saya salah satunya, saya mungkin segelintir orang yang tidak menyukai superhero. Bukan karena saya membenci pemberantasan kejahatan, ya saya senang ketika kebaikan menang. Tapi bukankah berubah seperti itu akan menjadi sebuah permasalahan baru?

Sejatinya manusia membenci perubahan, baik perubahan yang bersifat buruk, bahkan perubahan yang menuju sebuah kebaikan sekalipun. Rasa benci itu datang dari ketakutan, ya kami takut terhadap perubahan yang terjadi secara tiba-tiba, apalagi itu sebuah hal yang massive.

Oke baiklah, apa jadinya kamu dalam 2 bulan kemudian bertemu oleh orang yang sering memukuli kamu di sekolah dan sekarang dalam satu kelas bimbingan belajar, duduk bersebelahan dan dia menawarkan permen karet? Takut? Wajar, itulah reaksi ilmiah kita sebagai manusia terhadap perubahan yang drastis. Bahkan organ tubuhpun mengiyakan, ketika kamu berpergian ke dataran tinggi, telinga kamu akan merasa dijejali sesuatu yang tidak mengenakkan, ya kuping kamu takut terhadap perubahan tekanan udara diluar tubuh, sehingga dia membentuk pertahanan diri sehingga dapat menyesuaikannya perlahan. Bahkan telingapun merasa insecure.

Hal itu pulalah yang sedang dialami Indonesia, sedang berubah. Berubah menuju mana? Menurut saya tidak penting, tapi perubahan itu massive dan kebanyakan dari kami merasa takut, sehingga ada segelintir orang yang berani melawan, kami berlindung darinya. Ditambah masing-masing dari kalian memiliki massa, yang kebanyakan bisa dipastikan sepemikiran dan sepemahaman dengan kalian, yang siap menunggu komando dari anda, anda berkata maju, mereka maju, anda berkata makan berak anda, merekapun akan makan berak anda, mereka militan tetapi intelektualnya sedikit dibawah anda.

Yang pasti ini bukan tentang siapa melawan siapa, tentang ideologi apa melawan ideologi apa, tapi kami mohon main secara aluslah, jangan terang-terangan seperti Bruce Willis dalam sequel Die Hard. Bukankan kita adalah negara yang menang dengan cara diplomatis? Ya kita merdeka bukan karena kita menusuk penjajah satu-satu dengan bambu runcing, bukan dengan cara Soekarno menembakkan senapan ke arah pemimpin Jepang. Tirulah cara mereka, belajarlah dari sejarah!

Yang pasti kami ini kebanyakan bodoh, gampang ditipu kalau memang kalian terlihat tulus. Lihat saja berapa kali laki-laki yang ditipu oleh seleb BIGO yang selalu merengek buka-buka, hingga kami beri gift pada mereka yang bahkan sampai sekarang wujudnya pun seperti apa kami tak tahu. Berapa kali dari kami tertipu mulai dari mama minta pulsa, undian berhadiah, atau bahkan bapak sedang di kantor polisi.

Saya yakin kebanyakan dari kami tidak tahu apa itu paham komunis, negara islam atau mau dibawa kemanapun negara ini. Sebagian lainnya bahkan tidak peduli dengan hal itu. Tapi tolonglah jangan bawa perubahan itu terlalu cepat, itu tak baik untuk kami yang sedang membudak pada pekerjaan, secara tiba-tiba dilempar pertanyaan oleh anak kami, apa itu ISIS? Apa itu PKI? Kenapa mereka dinilai bersalah? Apa yang harus kami lakukan untuk membuktikannya?

Cukuplah kami mengurus hal-hal penting yang ada di kantor, hal-hal yang sekedar membuat atasan tidak marah saja kami sudah direpotkan. Cukuplah kami hanya bermimpi terhadap perubahan yang disajikan oleh superhero, jangan dibawa di dunia nyata.

Tapi bagaimana dengan orang-orang diluar sana yang meneriakkan “Kami rindu akan perubahan!”, mereka sama, mereka sama dengan kami yang takut tapi mereka jejali dengan penawar kebisingan. Ingat ketika kalian suka dengan gadis yang satu sekolah dengan kalian, tapi hanya mampu mengaguminya dari jauh, lalu minta kontaknya melalui teman-temannya dan memulai percakapan dengan alasan salah kirim sms? Sedangkan mereka adalah anak lelaki yang tampil di acara pensi sekolah dengan meneriakkan “I Love You” diatas panggung. Kesempatan berhasil atau tidaknya tetaplah sama, tergantung tipe gadis seperti apakah yang sedang kalian dekati. Tapi yakinlah mereka yang meneriakkan “I Love You” diatas panggung tadi bukan tanpa ketakutan dikehidupan mereka sebelumnya.

Biarlah perubahan-perubahan macam itu terjadi dalam angan kami, kami sungguh tidak terlalu membutuhkan itu

Solusi Untuk Indonesia

Gua sebagai silent reader, lama-lama pengen nulis juga.

Indonesia sedang diuji, iya gua sadar negara ini sudah tua, sudah 71 tapi ujiannya kayak anak remaja, oke gak apa mungkin Indonesia sedang masa puber kedua. Indonesia yang terkenal dengan keragamannya, kemajemukannya kerap menjadi contoh bahkan kebanggaan bagi negara lain, organisasi lain untuk saling menghormati dan toleransinya, sekarang sedang diuji.

Menyatukan Indonesia itu tidak pernah mudah, bahkan dimulai dari jaman kerajaan dulu, mulai kerajaan Majapahit yang berakhir dengan perang saudara, kerajaan-kerajaan lain hampir serupa, setelah raja yang dihormati wafat rerata hancur perlahan-lahan. Pada masa pendudukan bangsa lainpun begitu, gerakan dari sekumpulan kaum intelek yang Belanda kuliahkan, ditambah dengan golongan-golongan yang resah atas ketidakadilan pendudukan Belanda, maka Jepang yang saat itu tengah mengambil kekuasaan dari Belanda dipaksa oleh bangsa ini mundur, dan membiarkan Indonesia menjadi Indonesia.

Setelah jaman kemerdekaan pun bukan berarti perjuangan menyatukan Indonesia ini selesai, Soekarno jatuh dari kekuasaannya dalam proses penyatuan warga Indonesia. Indonesia pada saat itu dikotakan menjadi 3 golongan Nasionalis, Agamis, dan Komunis. Soekarno saat itu ditenggarai agak memihak dengan pihak komunis maka kaum nasionalis yang digerakan oleh militer berhasil mengambil alih kekuasaan Indonesia.

Setelah itu pun sebagai yang dihormati dikalangan militer, Soeharto mampu menjaga kedamaian, ya setidaknya untuk kebanyakan rakyat Indonesia, atau mungkin sengaja ditutup matanya agar hanya bisa melihat yang damai-damai saja. Kaum-kaum yang tidak terima dibungkam dengan alasan “menjaga kedamaian” tersebut merasa gerah atas ruang gerak yang semakin mencekik. Kaum intelektual dan muda memprakarsai penumbangan rezim ini.

Beberapa tahun terakhir dengan sistem demokrasi yang sudah sejak dulu kita anut tapi baru kita impelementasikannya, Indonesia cenderung mampu menjaga tensi dan keadilan yang manusiawi. Ya, keadilan yang terkadang masing-masing dari kita pernah merasa tidak adil, bukankah itu cukup adil?

Hingga akhirnya  kita merasa terganggu dengan issue yang fundamental, ya namun memang sensitif. Mungkin saat tulisan ini dibuat, gua belum mempunyai kapasitas yang cukup baik dalam hal ini, agama, maka dari itu gua gak ngambil pandangan dari situ.

Sebenarnya sebagian kecil (kecil atau besar saya kurang tahu) dari kita sebelumnya pernah jengah terhadap issue sosial media yang semakin seperti televisi, terlalu entertaining. Ya terlalu menghibur sehingga lupa dampak hiburan yang mereka sajikan itu akan seperti apa. Gua gak akan terlalu menyalahkan pelaku pembuat konten di sosial media, ya karena mungkin memang cara-cara itulah yang mereka inginkan, hal itulah yang selama ini dia resahkan, dan butuh suatu media yang masif untuk menyampaikannya, mungkin.

Ya karena sebagian besar karya manusia itu merupakan keresahan manusia tersebut.

Tapi sebagai pengguna internet yang baik, dan terlebih sebagai manusia yang berpengetahuan yang baik, seharusnya kita sama-sama bisa mencegah agar hal ini tidak menjadi hits, menjadi viral, menjadi booming sehingga masyarakat luas tahu.

Kalian tahu di Lativi dulu ada komedi tengah malam? yang semua wanita berpakaian amat seksi, yang dapat menaikkan gairah seksual, khususnya kaum lelaki. Kebanyakan mungkin tahu dan sedang senyum-senyum sendiri. Mengapa pada saat itu tidak menjadi perbincangan khalayak ramai? Ya karena anak SD hanya berbincang dengan teman sebayanya, pekerja kantoran membincangkan dengan teman kantornya, ibu rumah tangga menggosip dengan tetangganya. Bahkan itupun hanya pada teman yang memang dekat, atau tetangga yang memang sudah akrab, tidak lebih.

Tapi kini masing-masing dari kami memiliki mimbar beserta pengeras suara sendiri-sendiri. Kami mempunyai kanvas putih yang jumlahnya tidak terbatas yang pasti akan masuk galeri yang bernama instagram. Memiliki kertas kosong yang dengan mudahnya akan dicetak tanpa batas di percetakan facebook (ini mungkin agak menyalahi functional, tapi ya sudahlah). Masing-masing dari kita memiliki kolom opini di surat kabar twitter.

Pernahkah kalian memikirkan sebelum membuat konten di media sosial, pantaskah anda mengatakan hal yang pernah anda katakan di media sosial pada khalayak umum, yang beragam suku agama ras pendidikan usia tempat tinggal yang memang siap mendengarkan anda dan menggunakan pengeras suara? Sebagai seorang yang bertanggungjawab seharusnya berani.

Ya, sebaiknya bahasan yang memang sewajarnya tidak untuk dicetak menjadi buku, tidak cukup baik dipajang di galeri kesenian umum, opini yang tidak pantas berada di surat kabar, janganlah kalian produksi beramai-ramai sehingga menjadi bacaan, tontonan dan konsumsi oleh kaum yang memang belum waktunya dijejali dengan bahasan tersebut.

Pada saat Lativi dengan komedi tengah malamnya, saya tidak pernah mendengar seorang anak SD membahas hal itu dengan bapaknya, atau seorang ustadz memperbincangkan hal itu pada para pekerja kantoran. Ya karena memang tidak akan pernah terjadi, kami tahu batasan-batasan pembahasan apa yang akan kami bawa untuk orang yang akan kami hadapi.

Masih banyak cara komunikasi yang baik, jika kalian memang sudah sama-sama malas untuk saling bertatapan muka, marilah kita gunakan messager di hp kita, group discussion di media sosial, atau media atau ruang yang lebih tertutup dan dapat mengontrol konsumen dari bahasan yang ingin kita sajikan.

Apabila kalian ingin menyampaikan pembahasan yang sedikit sakral, ada baiknya saling tahu sama tahu secara personal, paling tidak pernah bertatap muka dan berbincang dengan baik belasan kali. Atau memang anda “benar-benar” cukup disegani dan berpengaruh dilingkungan tersebut.

Ada 2 hal yang gua rindu saat gua tulis tulisan ini, yang pertama ketika internet terbatas penggunanya dan sosial media ada batasan minimal umur (ya dulu friendster ada, atau sekarang masih ada? saya kurang tahu). Hal kedua adalah saat hp saya rusak.

Terkadang kesalahan kita untuk menyampaikan kebenaran, kita tidak tahu apa yang sedang kita coba takluki